Jembatan Busung di Bintan

Paket wisata batam singapore – Salah satu ikon Busung ini sebenarnya tidak sepopuler Jembatan Balerang Batam atau seikonik Jembatan Ampera Palembang. Tapi, di sekitar tempat jembatan, terkandung dermaga yang bisa digunakan untuk nikmati keindahan jembatan yang berdiri di atas selat kecil mirip sungai berair asin. Di dermaga sekitar jembatan Busung pula, saya bisa nikmati peristiwa pergantian hari yang berbeda. Jika umumnya gunung dan pantai menjadi incaran menangkap golden hour, di jembatan inilah saya justu bisa menikmatinya, baik sunrise maupun sunset.

Bukan cuma di siang hari, di malam hari saya termasuk bisa nikmati sinar bulan yang menyinari perairan di bawah jembatan Busung. Terdapat kafe yang bisa dijadikan spot untuk menyeruput kopi sembari memandang keindahan jembatan Busung di malam hari plus hempasan lirih angin laut. Apalagi, waktu itu sedang bulan purnama, rasanya begitu pas nikmati Busung sambil mendengarkan cerita renyah pengabdian teman-teman sepanjang di Bintan.

Busung menjadi tempat yang paling banyak saya eksplorasi, karena tempat tinggal saya sepanjang di Bintan sebenarnya di sekitar sini atau tepatnya di desa Kuala Sempang, yang sebenarnya dengan jangkauan kaki saja telah masuk Busung. Beragam keunikan termasuk saya dapatkan, termasuk menjumpai Pertamini – versi SPBU Pertamina yang lebih mini. Info Tentang Pulau Bintan

Jembatan Busung di Bintan

Masyarakat yang mayoritas sebagai nelayan, mengakibatkan rumah-rumah di kampung kosan teman saya berada, mayoritas cuma dihuni kaum hawa. Sebab, banyak kaum adamnya yang melaut tidak setiap hari pulang ke rumah. Sehingga, waktu Salat Jumat, yang merupakan kewajiban bagi muslim lelaki dewasa, di kampung ini tidak cukup berasal dari 40 orang.

Padahal, syarat minimum Salat Jumat adalah 40 orang lelaki dewasa. Untung, ada budak-budak kecil (red: budak adalah sebutan anak dalam bahasa Melayu Riau), akhirnya jumlah jamaah Salat Jumat genap 40 pas! Daripada tidak ibadat?

Selebihnya, kesan yang paling mendalam berasal dari Busung karena saya bisa berjumpa lagi dengan kawan baik saya. Itulah alasan saya sebut desa ini Bukan Busung Biasa (BBB).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp WhatsApp us